Aku masih kesah pada tiap jawapanmu
Aku tidak tahu, apakah aku sedang menanti
Tetapi, aku pasti jawabanmu meresahkan naluri
Bisakah aku halang?
Atau ceritakan pada hati dalam sepi
aku simpan derap bimbang yang menggunung
Makin hari, semakin risau melambung.
Aku kisahkan, kisah, kisah - kisahkan
siapa dirimu, dan apa dirimu
Bukan lepaskan dari genggam untuk di buang
Tidak, sayang sekali
andai melur yang mekar di hujankan dengan asid
hancur punah si penyeri pagi
Tangis derai melabuh dinihari.
Jurang tiada beza
Aku bahagia, kau kecewa - adilkah?
Tanyakan pada Tuhan apakah keadilan
Suarakan pada Malik kebenaran yang adil
Jawapan yang sama, Dia semaikan dalam pemilik jiwa
yang dambakan kasih dariNya
Yang rindukan sentuhan lembut dariNya
Yang sujud memohon taubat dari najis iblis
Pohonlah, jangan silu menunduk wajah.
Aku, masih di sini
Aku, masih menanti
Aku, masih mencari
Aku, masih meniti
Aku, masih sendiri
Aku, masih mendekati
dirimu yang sugul dari cinta Ilahi
yang keliru mendamba cinta
keluh alam remaja.
Rab,
aku bisikkan nada rabi' buatMu
Bukan untuk diriku
semata, tapi buat teman di sana
Yang masih leka, hanyut dalam cinta
insan yang berhabis nafsu semata
Selamatkanlah, bantulah hamba itu
dari debu dosa
yang Kau mungkari, yang Kau sekati
Jauh dari siratul mustaqim
Ya Rabbi,
Aku sujud mencari redhaMu
Agar teman di sana temui apa yang di cari,
yang di nanti
Agar teman itu merasai apa yang aku rasa,
yang manis belaka
Agar teman kecilku tersenyum merangkap bahagia,
dan senyumku lahir kebahagiaan
Untuk dirinya, si teman usang
yang bersedih, yang di tinggalkan, yang di pinggirkan
Dan aku,
Masih di sini Tuhanku, untuk dirinya.
Perkenankanlah.
Kay @ 12.35 am
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment