Mereka kata aku hina, di benci, kotor
Badan mulus tiada kasihan
Terjepit dalam perangkap samar
Menujah perisai tumit
Sakit, hampir fulus nyawa tercungap
Aku cuba, bangkit dari kalah
Biarkan mereka, aku ingin pergi, keluar menyepi
membuang emosi benci
Yang hampir trauma di bingkisan senja
Cecah tapak memanjat pohon, tinggi
mencecah dedaun
Yang hijau, yang kuning, tampak seri mencorak hari
Pedih masih sendat, aku tahan bersembunyi
abid pada Ilahi
Gemersik pipit bernyanyi merdu
Suara derau, aku terpaku hairan, 2 tubuh
selingkar di birai semak
Pengap-pengap, mencuri pandang, khusyuk
Makhluk apakah itu?
Punya kaki, punya tangan, punya rupa sempurna
Alur istighfar bermunajat
Manusiakah itu? Yang pernah menghina aku?
Yang pernah mencaci aku?
Apakah dirimu sesuci Adam yang ku kenal?
Kau potretkan kehinaan makhluk istimewa
Darjatmu sama denganku,
jijik katamu, kotor luahmu
Kau juga begitu manusia, jijik dan kotor
Kita tiada beza, malah aku lebih hebat mengatur bangsa
Betina dan jantan juga aku kenal
Sedang perempuan dan lelaki kau kelirukan
Aku lebih hebat, walau tak persis insan berakal
kay @ 8.18 pm
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment