Khusyuk aku menatap
Wajah lesu, biru menutup jernih
Tapi senyumnya indah
Sayangnya pada sentuhanmu
Rindu pada usapanmu
Aku lihat, aku menyambut senyummu
Senyum yang paling manis
Jangan hilang, biar tersemat
Aku duduk di pinggiran
Bersila, masih menanti suara serakmu
Mampu bersabar, walau penat
Sekejap baring, mendakap erat, tertidur
Sejuknya..
Masa berjaga, masih begitu lagaknya
Tak penat ke? Tak jemu ke?
Aku hairan seraya melepas keluh
Bermain jemarinya, kedut
Sejuk sangat, kenapa?
Embah,
Ibu kata biarkan seorang; embah penat
Aku diam, ingin di samping embah
Embah perlukanku, bila penat, embah beritahu
Bukan bisu
Bukalah mata embah, bukalah
Bicarakan penat itu, jika benar
Aku di samping, menggoncang embah; lemah
Tiada langsung kata
Bangkitlah embah, bangkitlah
Mereka ingin culik embah, mereka jahat
Embah!
Aku kuat, aku boleh selamatkan embah
Tapi aku kecil, embah..
Jangan berdiam diri, mari selamatkan diri
Aku sayang embah
Jangan biarkan embah di seret pergi
Jangan tinggalkanku embah
Tolonglah..!
Ibu, ayah..
Kenapa air mata?
Halanglah mereka
Tak bisa, amuk
Aku hanyut dalam tangis
Biarkan embah berehat, dia penat
Jangan di temankan, dia suka berseorang
Untuk kali terakhir
Bingkas ayah.
Kay @ 3.26 pm
Friday, May 05, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment